Dasar-Dasar Filsafat Kejawen

Bagi Anda yang ingin memahami lebih jauh mengenai pemikiran budaya kejawen. Ada baiknya Anda memahami terlebih dahulu dasar-dasar filsafat Jawa.

dasar filsafat kejawen

Berikut adalah dasar filsafat Jawa:

1. Kesadaran Religius

Keimanan dan kepercayaan kepada sesembahan (Tuhan) mendasari munculnya sistem religi dan ritual penyembahan, yaitu sembah raga, jiwa, dan sukma, yang mencakup semua daya hidup berupa cipta, rasa, karsa, dan daya spiritual.

Ritual itu bisa berbentuk tapa brata (Durung wenanga memuja lamun durung tapa brata), yang terdiri dari lima laku, yakni mengurangi makan dan minum (anerima), mengurangi keinginan hati (eling), mengurangi nafsu berahi (tata susila), mengurangi nafsu amarah (sabar), dan mengurangi berkatakata atau bercakap-cakap yang sia-sia (sumarah).

Akan tetapi, tapa brata bukanlah tat a cara penyembahan seperti pada agama impar, tetapi hanya sebagai sarana untuk menata kekuatan hidup (dayaning urip). Tapa brata merupakan sifat tatalitas menjalani hidup yang benar dan baik menuju kesempurnaan. Hidup yang sempurna (sukma) akan bersatu dengan Sang Sempurna (Guruning Ngadadi), dengan ilmu kesempurnaan (kawruh kasampurnan).

2. Kesadaran Kosmis

Kesadaran kosmis menggambarkan hubungan manusia dengan. alam semesta dan isinya. Kesadaran kosmis ini
mencitrakan ritual sesaji dengan falsafah sakabehing kang ana manunggal kang kapurbalan kawasesa dening Kang
Murbeng Dumadi. Semua yang ada di semesta adalah satu (manunggal) yang ada berasal dari Sang Pencipta (Sukma
Kawekas, Sah Hyang Wisesaning Tunggal, Sanghyang Wenang).

Falsafah ini mendasari pengetahuan kesatuan, berupa hubungan kosmis-magis manusia dan alam seisinya.
Adapun bentuk-bentuk ajarannya adalah sebagai berikut:

a. Bersatunya alam kecil (mikrokosmos) dengan alam besar (makrokosmos). Alam dan seisinya, termasuk manusia
adalah satu kesatuan.

b. Bapak angkasa dan ibu bumi. Manusia dibangun , dari unsur cahaya (cahya Ian teja) dan unsur bumi (bumi,
banyu, geni, Ian angin, utowo hawa).

c. Kakang kawah dan adi ari-ari. Yaitu, kelahiran berupa makhluk yang tampak maupun tidak tampak. Kesadaran
kesatuan akan semesta menjadikan manusia Jawa memiliki ritual slametan dan sesaji (caDs dhahar).

Pengetahuan mengenai kesatuan yang disebut dengan persatuan manusia dan Tuhan (manunggaling kawula Ian
Gusti) merupakan puncak filsafat Jawa.

3. Kesadaran Peradaban

Kesadaran peradaban adalah pemahaman mengenai hubungan manusia dengan manusia. Kesadaran ini berwujud
ajaran memayu hayuning pribadi, memayu hayuning kaluwarga, memayu hayuning bebyaran, memayu hayuning
negara, dan memayu hayuning bawana.

Manusia sebagai makhluk utama harus berhubungan dengan sesama manusia dalam keutamaan (beradab). Kesadaran peradaban ini mewujudkan kesadaran berintegrasi, terlebih dalam bernegara.

Konsep tata tentrem kerta raharja menjadi tujuan utama sebagai konsep bermasyarakat dan bernegara.
Menurut Prof. Dr. Branders (1889), manusia Jawa telah memiliki sepuluh dasar kehidupan asli yang ada sebelum
masuknya agama-agama impor, yaitu pertanian, sawah, dan irigasi; pelayaran; perbintangan; wayang; gamelan; batik; metrum; cor logam; mata uang; dan sistem pemerintahan.

Budaya-budaya tersebut ada sejak Jawa kuno dan merupakan kedaulatan spiritual Jawa, filsafat yang digunakan untuk hidup di Tanah Jawa, filsafat hidup lengkap di Jawa.

WhatsApp chat