Inilah Gambaran Laku Prihatin Orang Jawa dalam Menjalani Kehidupan

Inilah beberapa laku prihatin yang sering dijalankan orang jawa, tujuannya untuk mendapatkan keberkahan hidup dari Sang Maha Kuasa.

Prihatinnya Orang Miskin Harta. 

Walaupun seseorang kekurangan harta, tetapi dia tidak mengisi hidupnya 
dengan kesedihan, rasa iri dan dengki dan tidak mengejar kekayaan 
dengan cara tercela. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan 
tidak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Walaupun tidak dapat 

memenuhi keinginan kebendaan duniawi secara berlebihan, tetapi tetap 
menjalani hidup dengan rasa menerima dan bersyukur. Dan sekalipun 
menolong dan membantu orang lain, tetapi dilakukan tanpa pilih kasih 
dan tanpa pamrih kebendaan, dengan demikian hidupnya juga memberkahi  orang lain.

Filosofinya :

Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan (hewan). Urip 
iku mung mampir ngumbe thok. 

Hidup seperlunya saja sesuai kebutuhan, bukannya mengejar / menumpuk 
harta atau apapun juga yang nantinya toh tidak akan dibawa mati ke 
dalam kubur. 

Sekalipun mereka miskin harta, tetapi kaya di hati, sugih tanpa 
bandha.

Berbeda dengan orang yang berjiwa miskin, yang sekalipun sudah 
berkecukupan harta, tetapi selalu merasa takut miskin, dan akan 
melakukan apa saja, termasuk perbuatan yang tercela, untuk terus 
menambah kekayaannya. 

Prihatinnya Orang Kaya Harta. 

Walaupun seseorang berlebihan harta, tetapi tidak mengisi hidupnya 
dengan kesombongan dan hidup bermewah-mewahan. Tetap hidup sederhana sesuai kebutuhannya dan tidak memenuhi segala keinginan melebihi apa yang menjadi kebutuhan. 

Seseorang yang kaya berlimpah harta, memiliki banyak benda yang bagus 
dan mahal harganya dan melakukan pengeluaran yang “lebih” untuk ukuran orang biasa, bukan selalu berarti tidak menjalani laku prihatin.

Namun hidup yang bermewah-mewahan sama saja dengan hidup berlebih-lebihan (melebihi apa yang menjadi kebutuhan), inilah yang disebut tidak 
menjalani laku prihatin. 

Orang kaya harta, yang selalu mensyukuri kesejahteraannya, akan 
tampak dari sikap hatinya yang selalu memberi ‘lebih’ kepada 
orang-orang yang membutuhkan pemberiannya, bukan sekedar memberi, 
walaupun perbuatannya itu tidak ada yang melihat. Dan semua 
kewajibannya, duniawi maupun keagamaan, yang berhubungan dengan 
hartanya akan dipenuhinya, seperti yang seharusnya, tidak ada yang 
dikurangkan. 

Prihatinnya Orang Kaya Ilmu.

 Orang kaya ilmu, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu spiritual, akan 
menjalani laku prihatin dengan cara memanfaatkan ilmunya tidak untuk 
kesombongan dan kejayaan dan kepentingan dirinya sendiri, dan tidak 
untuk membodohi atau menipu orang lain, tetapi dimanfaatkan juga untuk 
menolong orang lain dan membaginya kepada siapa saja yang layak 
menerimanya, tanpa pamrih kehormatan atau upah. 

Prihatinnya Orang Berkuasa

Seorang penguasa hidup prihatin dengan menahan kesombongannya, menahan hawa nafsu sok kuasa, dan tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk kejayaan diri sendiri dan keluarganya saja.

Kekuasaan dijadikan sarana untuk menciptakan kesejahteraan bagi para bawahan dan masyarakat yang dipimpinnya. Kekuasaan dimanfaatkan untuk menciptakan negeri yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja, sebagaimana layaknya seorang negarawan sejati. 

Seorang politikus hidup prihatin dengan tidak hanya membela 
kepentingannya, kelompoknya atau golongannya sendiri, atau untuk 
mencari popularitas, menggoyang pemerintahan yang ada, tetapi 
digunakan untuk mendukung pemerintahan yang ada dan meluruskan 
jalannya pemerintahan yang keliru, yang menyimpang, untuk kepentingan 
rakyat banyak. 

Seorang aparat negara, aparat keamanan atau penegak hukum, hidup 
prihatin dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban tugasnya dengan 
semestinya dan tidak menyalahgunakan kewenangannya untuk menindas, 
memeras, atau berpihak kepada pihak-pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain, mencukupkan dirinya dengan gajinya dan menambah rejeki dengan cara-cara yang halal, tidak mencuri, tidak memeras, tidak 
meminta / menerima sogokan. 

Orang jawa bilang intinya kita harus selalu eling lan waspada. Selalu 
ingat Tuhan.

Tetapi biasanya manusia hanya mengejar kesuksesan saja, keberhasilan, keberuntungan, dsb, tapi tidak tahu pengapesannya. Sering dikatakan orang-orang yang selalu ingat Tuhan dan menjaga moralitas, seringkali hidupnya banyak godaan dan banyak kesusahan. 

Kalau eling ya harus tulus, jangan ada rasa sombong, jangan merasa
lebih baik atau lebih benar dibanding orang lain, jangan ada pikiran 
jelek tentang orang lain, karena kalau kita bersikap begitu sama saja 
kita bersikap negatif dan menumbuhkan aura negatif dalam diri kita.

Aura negatif akan menarik hal-hal yang negatif juga, sehingga kehidupan kita juga akan banyak berisi hal-hal yang negatif. Di sisi lain kita juga harus sadar, bahwa orang-orang yang banyak menahan diri, membatasi perbuatan-perbuatannya, seringkali menjadi kurang greget, kurang kreatif dan yang didapatnya juga akan lebih sedikit dibandingkan orang-orang yang tidak menahan diri.

Itulah resikonya menahan diri. Tetapi mereka yang sadar pada kemampuan dan potensi diri, peluang-peluang, dsb, dan dapat memanfaatkannya dengan tindakan nyata, akan juga dapat menghasilkan banyak, tanpa harus lupa Tuhan dan merusak moralitasnya. 

Di sisi lain sering dikatakan orang-orang yang tidak ingat Tuhan atau 
tidak menjaga moralitas, seringkali kelihatan hidupnya lebih enak. 
Bisa terjadi begitu karena mereka tidak banyak beban, tidak banyak 
menahan diri, apa saja akan dilakukan walaupun tidak baik, walaupun 
tercela.

Beban hidupnya lebih ringan daripada yang menahan diri. Mereka bisa mendapatkan lebih banyak, karena mereka tidak banyak 
menahan diri. 

Di luar pandangan-pandangan di atas, sebenarnya, jalan kehidupan masing-masing mahluk, termasuk manusia, sudah ada garis-garis besarnya, sehingga bisa diramalkan oleh orang-orang tertentu yang bisa meramal. Tinggal masing-masing manusianya saja dalam menjalani kehidupannya, apakah akan banyak eling dan menahan diri, ataukah akan mengumbar keduniawiannya. 

Dalam tradisi jawa, laku prihatin dan tirakat adalah bentuk upaya spiritual / kerohanian seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan raga, ditambah dengan laku-laku tertentu, untuk tujuan mendapatkan keberkahan dan keselamatan hidup, kesejahteraan lahiriah maupun batin, atau juga untuk mendapatkan keberkahan tertentu, suatu ilmu tertentu, kekayaan, kesaktian, pangkat atau kemuliaan hidup.

Laku prihatin dan tirakat ini, selain merupakan bagian dari usaha dan doa kepada Tuhan, juga merupakan suatu ‘keharusan’ yang sudah menjadi tradisi, yang diajarkan oleh para pendahulu mereka. 

Ada pepatah, puasa adalah makanan jiwa. Semakin gentur laku puasa 
seseorang, semakin kuat jiwanya, sukmanya. Laku puasa yang dilakukan sebagai kebiasaan rutin akan membentuk kebatinan manusia yang kuat untuk bisa mengatasi belenggu duniawi lapar dan haus, mengatasi godaan hasrat dan nafsu duniawi, dan menjadi upaya membersihkan hati dan mencari keberkahan pada jalan hidup.

Akan lebih baik bila sebelum dan selama melakukan laku tersebut selalu berdoa niat dan tujuannya, mendekatkan hati dengan Tuhan, jangan hanya dijadikan kebiasaan rutin saja. 

Berat-ringannya suatu laku kebatinan bergantung pada kebulatan tekad sejak awal sampai akhir. Bentuk laku yang dijalani tergantung pada niat dan tujuannya. Diawali dengan mandi keramas / bersuci, menyajikan sesaji sesuai yang diajarkan dan memanjatkan doa tentang niat dan tujuannya melakukan laku tersebut dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat dan tercela. Ada juga yang melakukannya bersama dengan laku berziarah, atau bahkan tapa brata, di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti di gunung, makam leluhur/orang-orang linuwih, hutan / goa / bangunan yang wingit, dan sebagainya.

WhatsApp chat