Menelaah Karakteristik Kejawen – Agar Lebih Mengenal Sisi Kejawen

Pada umumnya, orang Jawa percaya bahwa semua penderitaan akan berakhir bila telah muncul Ratu Adil.
Kepercayaan akan benda-benda bertuah serta melakukan slametan merupakan upaya orang Jawa untuk melakukan
harmonisasi terhadap alam sekelilingnya.

Memahami Karakterristik Kejawen

Selain itu, inti ajaran kejawen adalah amemayu hayuning bawana, yang dimuat dalam Kakawin Arjuna Wiwaha (Mpu Kanwa, 1032). Menjelaskan ajaran ini, Mpu Kanwa menggambarkan tugas seorang pimpinan yang harus memperbaiki dan memakmurkan dunia, seperti dinyatakan dalam Pupuh V bait 4-5.

Sunan Pakubuwana IX (1861-1893) menggubah bait tersebut dalam Serat Wiwaha Jarwa menjadi “Amayu jagad
puniki kang parahita, tegese parahita nenggih angecani manahing Iyan wong sanagari puniki” (Melindungi dunia
ini dan menjaga kelestarian parahita, arti parahita ialah menyenangkan hati orang lain di seluruh negeri ini).

Tugas hidup amemayu hayuning bawana, oleh Ki Ageng Suryamentaram dan Ki Hajar Dewantara, dikembangkan
menjadi mahayu hayuning sarira, mahayu hayuning bangsa, mahayu hayuning bawana (memelihara dan melindungi keselamatan pribadi, bangsa, dan dunia). Tugas amemayu hayuning bawana jelas merupakan kewajiban bagi setiap
orang sebagai pemimpin.

Mistik kejawen, istilah ini mungkin sudah begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Sebab, mistik kejawen sudah menjadi “sesuatu” bagi orang Jawa; bagian yang tak terpisahkan dari tradisi
Jawa.

Misalnya, ada yang beranggapan bahwa mistik kejawen adalah agama jawi (agama orang Jawa). Ada yang mengatakan bahwa mistik kejawen adalah budaya orang Jawa. Ada pula yang melihat mistik kejawen hanya sebagai
sebuah kepercayaan kebatinan. Dan, masih banyak lagi prakonsepsi tentang mistik kejawen.

Lantas, apa sebenarnya mistik kejawen itu? Apakah ia adalah sebuah agama, budaya, aliran kebatinan, atau yang
lainnya? Inilah pertanyaan yang sampai detik ini masih menimbulkan kontroversi. Dikatakan demikian, sebab
jawaban dari pertanyaan tersebut di tengah masyarakat, khususnya Jawa, sangat beragam.

Beragamnya pendapat inilah yang kemudian memicu kontroversi mengenai definisi atau makna sebenarnya dari mistik kejawen.

Meskipun di tataran makna terdapat kontroversi, namun ada satu hal yang tidak menimbulkan perdebatan mengenai mistik kejawen, yakni mistik kejawen atau ajaran kejawen sudah ada jauh sebelum Islam datang dan menyebar di Tanah Jawa.

Bahkan, ajaran kejawen sudah ada sejak zaman kabuyutan (zaman di mana Pulau Jawa masih dihuni oleh
sedikit manusia). Di zaman ini, agama tertua yang pernah ada di bumi pertiwi ini pun (Hindu dan Buddha) masih belum berkembang.

Dengan demikian, ajaran kejawen sudah ada sebelum masuknya agama Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam
ke Tanah Jawa. Lalu, seperti apakah mistik kejawen di zaman kabuyutan itu?

Jawaban dari pertanyaan ini secara detail dan komprehensif akan Anda dapatkan, bila Anda serius mencari referensi-referensi di mana saja. Selamat belajar!

WhatsApp chat