Sekelumit Mengenai Asal-Usul Kejawen Yang Perlu Anda Ketahui

sejarah asal-usul kejawen, sebenarnya bermula dari dua tokoh misteri, yaitu Sri dan Sadono. Sri sebenarnya penjelmaan Dewi Laksmi, isteri Wisnu dan Sadono adalah penjelmaan Wisnu itu sendiri (Hadiwijono, 1983: 21).

Sejarah Asal-Usul Kejawen

Itulah sebabnya dari sejarah asalu-usul kejawen, ada anggapan bahwa Sri dan Sadono adalah kakak-beradik, kebenarannya tergantung dari mana kita meninjau. Dalam kaitan ini, sesungguhnya Sri dan Sadono adalah suami-isteri yang menjadi cikal-bakal sejarah asal-usul kejawen.

Maka, dalam berbagai ritual mistik kejawen, keduanya selalu mendapat tempat khusus. Dewi Sri dipercaya sebagai dewa padi, dewa kesuburan.

Dewi Sri dan Wisnu, menurut Tantu Panggelaran memang pemah diminta turun ke arcapada untuk menjadi nenek moyang di Jawa. Dari sumber ini, akan meneguhkan sementara bahwa nenek moyang Jawa memang dewa.

Berarti kaum kejawen sebenarnya berasal dari keturunan orang yang tinggi tingkat sosial dan kulturnya. Selanjutnya, Dewi Sri dianggap menjelma ke dalam diri tokoh Putri Daha bemama Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana, sedangkan Sadono menjadi Raden Panji.

Keduanya pernah berpisah namun akhirnya berjumpa kembali. Menurut beberapa sumber, pertemuan Sri dan Sadono atau Panji dan Sekartaji terjadi di Gunung Tidar, Magelang. Tempat itu kemudian oleh Sadono dan Sri diberi tetenger(tanda), dengan menancapkan paku tanah Jawa.

Hal ini sekaligus untuk mengokohkan Tanah Jawa yang sedang goncang. Sejak itu Tanah Jawa tenang kembali.
Paku tersebut kelak dinamakan Pakubuwana (paku bumi). Pakubuwana inilah yang menyebabkan orang
Jawa tenang, sehingga keturunan Sadono dan Sri menjadi banyak.

Sejarah Asal-usul Kejawen Cerita Semar Togog

Hanya saja, keturunan mereka ada yang baik dan yang buruk. Maka, Batara Guru segera menyuruh Semar dan Togog ke Gunung Tidar. Semar diminta mengasuh keturunan Sadono-Sri yang baik-baik dan Togog mengikuti yang angkara murka.

Sejarah Asal-Usul Kejawen

Togog dan Semar pun akhirnya menurut perintah itu, karena merasa bahwa Batara Guru sebagai rajanya.
Baik Togog maupun Semar dianggap telah kalah dalam perlombaan nguntal (menelan) gunung.

Ketika lomba dimulai, Togog mendapat giliran pertama untuk menelan gunung. Gunung itu tidak dapat masuk ke mulut Togog, tetapi Togog memaksakannya. Akibatnya, mulut Togog menjadi sangat lebar.

Sedangkan Semar dapat menelan gunung, tetapi gunung itu tidak dapat keluar dari tubuhnya, sehingga menyebabkan bokong Semarmenjadi besar. Kelak, gunung yang ada di dalam perut Semar, berfungsi sebagai senjatanya.

Semar terkenal dengan kentutnya yang sangat bau (busuk), sebagai senjata yang mematikan. Dalam perlombaan menelan gunung, hanya Batara Guru yang sukses.

Batara Guru kuat menelan gunung dan akhirnya berhak menjadi raja di Kahyangan. Namun, dia juga tak bisa mengeluarkan gunung dari perutnya, bahkan tiba-tiba tangannya bertambah dua, menjadi empat.

Dari kisah-kisah mistis demikian, menggambarkan bahwa sejak semula masyarakat kejawen memang banyak
berkenalan dengan mistik. Paham mistik telah mengitari hidup mereka. Paham mistik Sri dan Sadono,
selanjutnya dalam tradisi kejawen dipuja menjadi sebuah patung kecil bemama Loro Blonyo.

Patung yang senantiasa diletakkan di senthong (kamar) tengah ini, selalu menjadi pajangan pada saat ada pesta pemikahan. Patung tersebut, juga diwujudkan dalam tarian menyambut pengantin, yaitu tari Karonsih.

Artinya, menyatunya dua tubuh laki-Iaki-perempuan yang penuh kasih (cinta suci). Tarian ini melambangkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Raden Panji.

Ajaran kuna yang selalu menjadi pedoman dan dikaitkan dengan Sri-Sadono adalah falsafah Ajisaka. Ada
kepercayaan bahwa dari Ajisaka ini lahirlah aksara Jawa.

Sejarah Asal-usul Kejawen Dari Falsafah Aji Saka

Falsafah Ajisaka sarat dengan liku-liku mistik kejawen. Ajisaka, berasal dari kata Aji (raja, yang dihormati, dipuja, dan disembah) dan Saka artinya tiang atau cabang.

Sejarah Asal-Usul Kejawen

Ajisaka berarti tiang penyangga yang memperkokoh diri manusia, yaitu religiusitas. Religiusitas Jawa tak lain
adalah mistik kejawen.

Mistik kejawen adalah saka guru (empat tiang penyangga) kehidupan kejawen. Karenaitu, jika kejawen tanpa mistik, maka pudar pula kejawen tersebut.

Kejawen dan mistik telah menyatu, menjadi sebuah ekspresi religi mistik kejawen. Paham kejawen, sejak Sri dan Sadono memang dianggap masih mencerminkan kebodohan.

Baru sejak Ajisaka datang ke Jawa, masyarakat kejawen merasa berilmu. Dialah yang dianggap sebagai penyangga keilmuan Jawa. Dialah yang mengajarkan kejawaan deles (asli).

Maka, dalam kisah tersebut Ajisaka akan mengalahkan Dewata Cengkar, seorang raja pemakan manusia
(kanibal). Dewata Cengkar merupakan lambang masyarakat Jawa tempo dulu yang masih barbar.

Sebelum Ajisaka angajawa (ke Jawa) masyarakat Jawa belum berperadaban. ltulah sebabnya Dewata Cengkar harus terkalahkan.

Dewata adalah simbol kekuatan baik dan Cengkar adalah simbol keburukan (gersang). Berarti, Dewata Cengkar adalah gambaran baik dan buruk yang ada dalam diri manusia.

Dengan penyangga mistik kejawen manusia akan menyingkirkan keburukan dan bertindak baik. Dewata Cengkar kenyataannya tidak sima, hanya terlempar ke laut dan berubah menjadi buaya putih.

Ini merupakan gambaran bahwa dalam tindakan mistik kejawen pun, sering ada yang menyimpang ke arah ilmu
hitam. Ajaran yang sebenamya putih itu, sering berbahaya ketika berubah menjadi hitam.

Sejarah Asal-usul Kejawen Dan Kontradiksi Ajaran Mistik

ltulah sebabnya, kontradiksi hitam-putih dalam ajaran mistik kejawen tak akan hilang sarna sekali, akan selalu ada sejauh manusia itu memerlukannya.

Dalam kisah tersebut, digambarkan Ajisaka berasal dari Pulau Majeti. Pulau Majeti adalah gambaran
badan wadag (kasar) manusia. Ini lukisan alam semesta yang serba mudah rusak, di tempat ini akan selalu dihuni
oleh abdi bemama Dora dan Sembada (yaitu nafsu jelek dan baik).

Peperangan antara yang baik dan yang buruk tersebut akan selalu berkecamuk. Keduanya tak akan ada yang kalah dan menang (sampyuh). Dari kisah sugestif ini, temyata, Ajisaka memang bukan asli kejawen.

Dia mengajarkan kejawen menurut versinya. Maksudnya, ajarannya telah dioplos dengan kultur miliknya.
Namun, bagi kaum kejawen hal tersebut tak menjadi masalah.

Sumber : Mistik Kejawen

BACA JUGA :

 

WhatsApp chat