Ajaran Syekh Siti Jenar tentang Kehidupan dan Kematian

Syekh Siti Jenar beranggapan bahwa dunia ini adalah alam kematian, maka manusia yang hidup di dunia bersifat
mayat atau bangkai. Kehidupan di dunia sekarang ini bukanlah kehidupan yang sejati, karena masih akan dihampiri.

oleh !<ematian. Kehidupan sejati adalah kehidupan yang sudah. tidak tersentuh lagi oleh kematian. Kehidupan sejati adalah kehidupan yang tidak lagi menumpang pada badan wadah yang bisa rusak atau musnah. Kehidupan sejati tidak membutuhkan pemenuhan nafsu-nafsu badaniah. Syekh Siti Jenar memandang kehidupan di dunia ini
sebagai kematian yang singgah di dalam raganya.

Inilah yang membuat manusia tersesat di dunia, di dalam neraka yang dahsyat. Jasad yang mengandung pancaindra melihat dunia terbentang, matahari menyusup di langit, serta harta kekayaan yang melimpah, tanpa menyadari kematiannya di dunia.

Oleh karena itu, Syekh Siti Jenar bertekad mengakhiri  kematiannya di dunia untuk menempuh kehidupan yang abadi. Dalam keyakinannya, kehidupan abadi yang sesungguhnya itu hanya bisa dijalani setelah seorang manusia menemui ajalnya. Dalam alam kehidupan yang nyata itulah, ketentuan syariah baru bisa berlaku.

Syekh Siti Jenar menuturkan, “Hayyun da imun la yamutu Abadan.” Hidup itu bersifat daim, kekal selamanya, tidak pernah ada kematian. Inilah hakikat hidup. Allah sendiri menyandang nama al-Hayyu. Roh manusia berasal dari kehidupan yang hakiki dan akan kembali kepada kehidupan hakiki. Namun, di dunia ini, zat hidup memerlukan awak (ahlab”= wadah) yang bersifat bangkai sesuai duniawi.

Maka begitu roh tergiring ke alam wujud, ia akan menempati bangkai sesuai sarana persemayamannya. Syekh Siti Jenar menandaskan bahwa kullu ‘alamin mawjudun, setiap alam ada eksistensinya. Peragaan roh dalam “bangkai” di dunia tidak lain agar sang roh yang azali itu bisa bereksistensi di alam kematian dunia. Itulah sebabnya, di dunia, manusia hanya disebut sebagai khalifatullah, sang wakil Allah, sementara perjalanan hidupnya disebut ‘bidullah, hamba Allah.

Maka, fungsi duniawi haruslah ditujukan kepada hal yang bersifat azali, pangkat khalifatullah kemudian musnah, demikian juga sifat khalifahnya dan keadaan ‘abidullah, musnah pula kondisi ‘abid-nya, dan yang tinggal hanya satu: “Allah”.

WhatsApp chat