Sejarah Datangnya Masyarakat Jawa

Mitos Jawa

Pada Pembahasan Asal Usul Kejawen ini, saya akan menjelaskan urutan-urutan datangnya masyarakat Jawa. Maka dari itu, sebelum Anda mengetahui tentang Islam Kejawen, mungkin saya akan mewajibkan Anda mengetahui sejarah tentang nenek moyang penduduk jawa. Ya, dengan begitu Anda tahu seluk beluk dan awal mula kebudayaan yang indah ini.

Asal Usul Kejawen Demi Memperjuangkan Kehidupan

Seperti bangsa-bangsa lain, penduduk pulau Jawa berkembang bersama alam. Pada awalnya, penduduk jawa merupakan bangsa pengembara di rimba belantara, dan berjuang mempertahankan hidupnya di tengah binatang dan alam yang masih buas.

Di tengah alam yang masih buas itulah orang Jawa mulai mempelajari pengaruh alam berupa cuaca panas dan dingin, hujan dan kekeringan, angin dan topan, terang dan gelap, dan semua kekuatan yang terdapat di alam. Dengan terus-menerus berjuang melawan alam, lambat laun penduduk di pulau Jawa dapat mengenal kekuatannya sendiri.

Asal Usul Kejawen
Cuci Pusaka adalah salah satu Tradisi Kejawen

Melalui pergaulannya dengan berbagai kekuatan alam, timbullah pemahaman di kalangan orang Jawa, bahwa setiap gerakan, kekuatan, dan kejadian di alam disebabkan oleh makhluk-makhluk yang berada di sekitarnya. Pandangan ini disebut paham Animisme, yaitu paham yang meyakini adanya kekuatan roh atau kekuatan alam lainnya. Keyakinan terhadap kekuatan roh ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu fetitisme dan spiritisme.

Fetitisme adalah pemujaan kepada benda-benda berwujud yang tampak memiliki jiwa.

Spiritisme adalah pemujaan terhadap roh-roh leluhur dan makhluk-makhluk halus lainnya yang terdapat di alam.

Keyakinan hasil didikan alam ini terus dianut oleh orang Jawa secara turun- temurun. Bahkan ketika zaman kolonial, ketika orang Jawa sudah banyak yang menganut agama formal, seperti Islam, Hindu, Nasrani, dan pemujaan terhadap kekuatan alam tidak ditinggalkan. Tampaknya, agama yang mereka anut tidak mampu menghilangkan keyakinan terhadap adanya kekuatan alamo Kepercayaan atau ritual yang dilakukan oleh orang Jawa disebut sebagai “kejawen.”

Munculnya Istilah Kejawen

Ajaran kejawen merupakan keyakinan dan ritual campuran dari agama-agama formal dengan pemujaan terhadap kekuatan alam, sehingga hal itu merupakan Asal Usul Kejawen. Sebagai contoh, orang Jawa banyak yang menganut agama Islam, tetapi pengetahuan mereka tentang agamanya boleh dikatakan masih kurang mendalam. Praktik keagamaan yang dilakukan hanya sebagai seremoni semata (ini merupakan hasil pengamatan Van Hien sebelum perang dunia kedua).

Pengamat yang teliti akan mengetahui, bahwa orang Jawa memiliki kepercayaan yang beragam dan campur aduk. Praktik keagamaan yang dianut oleh orang Islam banyak dipengaruhi oleh kepercayaan dari agama Brahma, Budha, Magisme, Dualisme dan kepercayaan kepada alam. Nah, Penduduk di pulau Jawa ini juga masih banyak berpedoman pada primbon dan pantangan dalam melakukan ritual keagamaan. Pantangan adalah pedoman yang berasal dari praktik pemujaan terhadap dewa-dewa dan makhluk-makhluk sakral dari agama Budha dan Parsi.

Ketika agama Islam masuk ke pulau Jawa, kepercayaan yang dianut orang Jawa terbagi ke dalam beberapa sekte, seperti sekte Hindu, Brahma dan Budha. Sekte tersebut berasal dari perbedaan agama di negeri asalnya di India, yang kemudian dibawa penganutnya yang pindah ke Jawa.

Pada masa kedatangan agama Islam, mereka tetap mempertahankan kepercayaannya. Oleh kalangan Islam, mereka yang menganut sekte-sekte tersebut dijuluki sebagai Badawi, Baduwi atau perampok. Secara garis besar agama dan keyakinan yang dianut orang Jawa pada tahun 1920 dibagi menjadi Tiang Tenger, Animisme, dan Islam. Tiang Tengger adalah orang Jawa yang menganut kepercayaan yang berasal dari Hindu Wasiya yang semula menganut kepercayaan Brahma.

Tumpeng merupakan salah satu budaya Kejawen

Ketika ajaran Islam menyebar di Pulau Jawa pada abad ke – 14, mereka tetap mempertahankan kepercayaannya. Akan tetapi, ketika pelarian Hindu Parsi datang ke Jawa pada abad ke -16, mereka beralih kepercayaan ke agaman Hindu Parsi. Kemudian, kaum animis merupakan penduduk Jawa yang menganut keyakinan asli Jawa. Nah, Ketika agama Islam menyebar ke pulau Jawa, mereka tetap mempertahankan kepercayaannya. Oleh orang Islam, mereka disebut sebagai Tiang fasek atau orang tanpa kepercayaan.

Oleh karena itu, sampai sekarang penganut agama islam yang merupakan golongan terbesar di pulau Jawa, ternyata tidak memeluk agama ini secara murni sehingga masih dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:

• Kaum Islam yang masih memegang campuran kepercayaan Brahma dan Budha;
• Kaum Islam yang menganut kepercayaan magic dan dualisme;
• Kaum Islam yang masih menganut Animisme;
• Kaum Islam yang menganut agamanya secara murni.

Oleh Professor Veth, ketiga sekte Islam yang pertama disebut sebagai kejawen. Sampai saat ini, ajaran kejawen masih banyak dianut oleh orang Jawa. Sangat sulit untuk dapat melihat keyakinan orang Jawa secara murni karena ajaran agama yang dianut merupakan percampuran dengan ajaran-ajaran sebelumnya di masa lalu. Maka dari itu saya membahas Asal Usul Kejawen ini lebih detail, sehingga Anda dapat mengerti dan faham.

Hubungan Manusia dan Mahluk Lain Merupakan Asal Usul Kejawen

Pedoman dari kepercayaan campuran ini tampak pada ajaran yang disebut sebagai petangan. Petangan, selain mempengaruhi kehidupan keagamaan yang dianut, juga mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang Jawa.

Lantas apa itu petangan?

Petangan adalah keyakinan mengenai hubungan antara manusia dan roh-roh halus. Merupakan sarana bantu di mana Yang Kuasa dapat menampakkan diri secara tidak langsung kepada manusia. Petangan dapat memberi harapan dan kedamaian, dan juga kekuasaan.

Oleh orang Jawa, petangan dibagi menjadi empat jenis, yaitu;

  • Pawukon : Merupakan petangan yang dipakai oleh orang-orang Baduwi
  • Ngelmu : Merupakan petangan yang dipakai oleh orang Tengger
  • Tengeran: Merupakan petangan yang dipakai oleh liangpasek dan Animisme
  • Primbon : Merupakan petangan yang dipakai oleh keempat golongan Islam.

Dalam petangan tadi, orang Jawa mengenal zat-zat gaib. Zat gaib menurut orang Jawa dipilah menjadi empat kelas utama, yaitu: Dewa-dewi utama dan dewa-dewi lainnya, serta makhluk-makhluk lain yang dipercayai oleh ajaran Budha dan Hindu. Kepercayaan ini terutama dianut oleh orang Baduwi dan orang Jawa,  yang berasal dari nenek moyang sebelumnya memeluk agama tersebut.

Kuda lumping merupakan salah satu media komunikasi dengan mahluk lain

Kemudian zat yang dipuja sebagai Tuhan dari benda-benda angkasa dan unsur-unsur yang berasal dari magisme dan dualisme. Orang Jawa mengenal ajaran ini dari kalangan Hindu Parsi. Kepercayaan ini terutama dihargai dan dianut oleh Tiang Tengger dan keturunannya yang beragama Hindu Parsi.

Lalu , setan-setan, jin-jin dan makhluk halus yang berasal dari pemujaan alam. Kepercayaan ini terutama dianut oleh Tiang Pasek sebagai penduduk asli dari pulau Jawa dan keturunannya yang telah beragama Islam.

Meskipun telah beragama Islam, mereka tetap menghargai dan takut terhadap jin, setan, dan makhluk halus yang bersumber dari pemujaan terhadap alam. Yang mana Makhluk-makhluk itu disebutkan dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab agama Islam lainnya. Makhluk-makhluk gaib ini dihargai dan diakui oleh mereka yang beragama Islam.

Demikian pembahasan saya tentang Asal Usul Kejawen. Kemudian untuk memahami keempat unsur kepercayaan tersebut, perlu mengetahui lebih mendalam pada pembahasan pada Artikel selanjutnya.

  • Seperti Jenis keagamaan yang dianut orang Jawa
  • Sesajian oleh orang Jawa
  • Perhitungan dalam praktik keagamaan di Jawa.

Atau silahkan tanyakan pada kami pada nomor  

Mbak Nayla 0816577880 (Indosat) Email : Cskibaguswijaya@gmail.com Atau WhatsApp : +62816577880

 

WhatsApp chat