Hikmah Kodrat dan Wiradati

Hikmah mistik kejawen, sedikit demi sedikit akan memupuk sikap sadar terhadap kodrat (takdir) Tuhan. Apapun yang dilakukan manusia, telah dikodratkan oleh Tuhan.

Melalui penghayatan mistik yang dalam, kesadaran itu akan muncul dengan sendirinya. Kesadaran terhadap kodrat, tak berarti maIiusia hanya diam. Manusia tetap melakukan iradat (usaha).

Mistik kejawen, tak lain merupakan usaha itu sendiri secara batin. Konsep kejawen urip mung sederma nglakonta artinya hidup sekedar mengikuti apa yang telah ditentukan – tidak berarti harus bersikap fatalistik. Sikap tak berbuat apa-apa, berarti mati. Sedangkan mistik tak menghendaki demikian.

Mistik kejawen justru menuntun manusia untuk berbuat yang dilanqasi dengan perilaku batiniah. Jadi, mistik kejawen menjadi sebuah “kendaraan” dan sekaligus terminal hidup itu sendiri.

mengarahkan manusia menjadi sadar diri, sadar akan kekuatan batinnya, dan seluruhnya perlu diterima dengan senang hati. Keyakinan bahwa persoalan hidup memang telah diatur, juga dipahami sebagai hal wajar. Namun, disisi lain pelaku mistik tetap menjalankan aktivitas hidupnya, dengan fondasi batin yang kuat. Dengan cara ini, yang muncul adalah sikap pasrah dan sumarah.

Kepasrahan total kepada Tuhan, berarti segala keberhasilan dan kegagalan hidup akan diterima dengan bahagia. Seperti halnya dikemukakan Ki Nartosabdo bahwa “kridhaning ati tan kuwawa mbedhah kuthaning pasthi, budidayaning manungsa ora bisa ngungkuli garising kuwuasa” adalah dasar religi Jawa yang hakiki. Maksudnya, keinginan hati belum tentu cocok dengan takdir. Keinginan mungkin begitu besar, tetapi takdir bisa menentukan sebaliknya. Hal ini tergantung kekuasaan Tuhan.

Memang bagi paham mistik Islam kejawen, ada yang berpendapat bahwa kodrat Tuhan tak mutlak. Kodrat dapat ditawar atau diubah, asalkan manusia mampu menegosiasi. Tentu saja, mistik merupakan jalan negosiasi untuk menarik simpatisan kodrat.

Dari key akin an demikian, kodrat menjadi sedikit longgar. Berarti, nasib manusia masih ada kemungkinan berubah. Kendati dalam Serat Centhini disebutkan “duk lagya wijiling wiji, critane wus rampung”, artinya kektika bayi lahir cerita telah tamat – hanyalah sugesti bahwa kekuasaan Tuhan memang segalanya.

Namun, hal ini perlu dipahami lebih luas, bahwa istilah rampung sebenarnya masih bersifat sementara. Maksudnya, kodrat pun dapat diwiradati, dapat diubah.

WhatsApp chat