Menemukan Rasa Sejati Kejawen

U ngkapan “wong Jawa kuwi nggone rasa” atau “wong Jawa nggone semu”, sangat populer dalam kalangan masyarakat. Ungkapan ini tidak saja merambah dalam pergaulan hidup sehari-hari, namun juga mewamai dalam segala aspek kehidupan batin. Bahkan disadari atau tidak ungkapan ini telah menjadi “mesin” kejiwaan manusia Jawa. Karena itu dalam hidupnya, termasuk lakulaku mistik yang dijalankan, akan bemuansa demikian. Implikasi dari ungkapan itu, sering untuk menyatakan dalam berbagai etika pergaulan masyarakat. Karenanya, jika ada masyarakat yang tidak tahu rasa, bertindak semaunya sendiri, dikatakan: mati rasane. Ada juga tingkatan yang lebih rendah lagi, dinyatakan dalam Serat Wulangreh: gonyak-ganyuk ngleling-semi. Ungkapan terakhir ini juga berlaku bagi manusia Jawa yang dalam nggilut (menghayati) mistik kejawen masih setengah-setengah. Artinya, belum menguasai ngelmu rasa, sehingga dalam pergaulan mistik akan membuat malu. Pendek kata, tingkah laku manusia yang belum menguasai ngelmu rasa, masih dikatakan durung Jawa. Mereka belum menep rasane.

Ngelmu rasa seperti diterangkan dalam Serat Centhini XI: 669, memuat tiga kerelaan batin, yaitu:

(1) rela terhadap takdir suci,

(2) rei a terhadap dzikir dalam hening, dan

(3) rela terhadap anasir atau percaya terhadap asalusul kehidupan. Ketiga hal ini memberikan gambaran bahwa ngelmu rasa yang tertinggi adalah rasa tauhid. Ngelmu inilah yang disebut ngelmu tuwa (bengat).

Ngelmu ini dilakukan dengan mengatur keluar masuknya napas:

(1) napas (melalui mulut, dengan mengucap la ilaha ilallah), ini termasuk wirid syariat,

(2) anpas (melalui telinga, membaca ilallah ilallah), termasuk wirid tarekat,

(3) tanapas (me1alui mata, mengucap Allah Allah), termasuk wirid hakikat,

(4) nupus (melalui hidung, membaca hu hu hu), tergolong wirid makrifat.

Gonda (Stange, 1998:23) berpendapat bahwa rasa yang berkembang dalam masyarakat Jawa memiliki kedalaman makna. Rasa dalam pemahaman mistik Jawa, menurutnya ada tekanan khusus pada hati, sufi, dan atas kalbu. Selanjutnya, ia menyatakan sebagai berikut.

.Tidaklah mudah untuk menyatakan dengan tepat, konotasi apa yang dimaksud oleh para mistikus ini ketika menggunakan istilah yang favorit “rasa”. Kata ini sering dipakai untuk menerjemahkan kata Arab “sirr” rahasia, misteri yang merujuk pada un sur yang paling halus dan laten dalam hati nurani manusia, yang disebut sebagai tempat Tuhan bertahta, “tempat” di mana roh dan Tuhan bersatu …

Dalam naskah-naskah mistik Jawa prinsip ketuhanan ini juga disebut “rasa”, tetapi bukan rasa yang biasa, bukan rasa (perasaan) yang kita alami di tubuh, melainkan rasa yang kita hayati dalam hati. Hati nurani yang bersih danjemih menerima “rasa” tertinggi, yang suci dan tanpa cacad … (dan) .. Di satu sisi “suskma” dan “rasa” dianggap berkaitan, tetapi bukan prinsip yang identik … di sisi lain keduanya dapat saling dipertukarkan atau suksma bisa disebut “rasa sejati”.

Hadiwiyono (Jatman, 1997:27) membagi berbagai rasa yang melingkupi hidup manusia, yaitu:

(1) rasa pangrasa, yakni rasa badan wadag, seperti yang dihayati manusia melalui inderanya: rasa pedas, gatal, sakit, enak, dan lain-lain,

(2) rasa rumangsa, yakni rasa eling, rasa cipta, dan rasa grahita, seperti misalnya ketika manusia menyatakan bahwa Kramadangsa telah “ngrumangsani kaluputane” atau “rumangsa amung titah, Kramadangsa amung raas syukur”,

(3) rasa sejati, yakni rasa yang masih mengenal rasa yang merasakan, dan rasa yang dirasakan. Sudah manunggal, tetapi masih dapat disebut. Rasa damai, rasa bebas, rasa abadi, termasuk dalam pilihan ini,

(4) sejatining rasa, yakni rahsa, yang berarti hidup itu sendiri yang abadi. Berbagai tingkatan rasa itu akan dialami oleh manusia Jawa.

Tingkat rasa (1) sebenarnya kalau berpijak pada pandangan psikologi Jawa Ki Ageng Suryamentaram (Adimassana,1986:30-31) masih tergolong “rasa hidup”. “Rasa hidup” menyebabkan manusia takut mati.

Karenanya berusaha untuk hidup, jika hidupnya berhasil akan merasa senang, sebaliknya jika gagal akan susah. Bertumpu pada pendapat ini, maka dapat dikatakan bahwa tingkatan rasa (2), (3), dan (4) di atas telah merambah ke dunia batin manusia. Rasa tersebut sudah tergolong rasa rohani.

Rasa yang benar-benar tumbuh dari kedalaman batin. Dari empat tingkatan rasa tadi, yang paling banyak memberi aroma batin dalam kehidupan mistik adalah rasa sejati. Rasa sejati termasuk puncak rasa dalam pengetahuan rahasia Tuhan.

Rasa sejati adalah tingkatan mulhimah dalam kaitannya dengan nafsu yang melingkupi hidup manusia. Rasa sejati adalah “puncak” rasa. Rasa dari segala rasa manusia. Rasa sejati merupakan sari rasaning urip (inti sari hidup). Rasa sejati dapat dicapai melalui semedi, sehingga manusia mampu mencapai kahenengan yang sejati (amleng, lerem tumlawung, suwung, kosong, mati sajroning urip, sunyarurt). Dalam arti kata jiwa mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta) telah bersatu padu menjadi kebulatan tunggal

WhatsApp chat