Psikologi Kejawen – Mawas Diri

Dalam Serat Sasangka Jati digambarkan bahwa manusia Jawa harus menjalankan sikap hidup yang disebut dengan istilah Hasta Sila yang terdiri dari Tri Sila dan Pancasila. Tri Sila mempakan pedoman hidup sehari-hari, yakni merupakan tiga hal yang harus dituju oleh budi dalam rangka menyembah kepada Tuhan.

Tiga sikap dasar itu yakni: eling (sadar), pracaya (percaya), dan mituhu (setia) menjalankan perintah Tuhan. Tuhan merupakan kesatuan dari tiga sifat yang disebut: Suksma Kawekas (Allah SWT), Suksma sejati (Rasulullah), dan rah suci Uiwa manusia). Ketiganya disebut Tripurusa.

MENINGKATKAN KEBERUNTUNGAN DENGAN PAMOR

Pancasila terdiri dari lima watak manusia yang disebut: rila, nrima, temen, sabar, dan budi luhur. Rila berarti yaitu sikap ikhlas hati sewaktu menyerahkan segala kekuasaan, milik, dan karya kepada Tuhan. Nrima yaitu . merasa puas dengan nasib yang diterimanya.

Apa pun yang sudah terpegang diterima dengan narima ingpandum, sehingga jiwanya tidak ngangsa dan ngaya. Sabar adalah sikap momot, kuat terhadap segala cobaan atau ujian, tetapi tidak berarti putus asa, tidak sempit pandangannya, dalam ungkapan dikatakan ati segara.

Budi luhur adalah watak untuk menjalankan tugas hidupnya dengan segala tabiat dan watak serta sifat-sifat yang dimiliki Tuhan, seperti halnya sikap adil para marta berbudi bawa leksana. Sikap hidup di atas masih harus ditunjang lagi dengan pedoman hidup manusia Jawa yang disebut: aja dumeh dan aji mumpung.

Misalkan, aja dumeh sugih, pinter, gagah, kuwasa, dan lain-lain. Me1alui sikap aja dumeh manusia akan mudah untuk mawas din’. Mereka akan mampu berbuat tepa salira terhadap sesama, sehingga tidak berlaku daksiya atau sewenang-wenang. Sikap aji mumpung yang sering dikatakan mumpungisme merupakan pedoman pengendalian diri dari sifatsifat serakah dan angkara murka budi candhala.

Apabila sedang memiliki kedudukan, manusia juga akan selalu mengendalikan diri untuk berbuat yang sepantasnya. Mereka akan ingat bahwa “rada kuwi mubeng” atau nyakramanggilingan. Dunia tidak akan berjalan ajeg.

Manusia Jawa yang mampu melakukan sikap hidup demikian dikatakan sebagai manusia yang mampu bertindak sebagai satriya pinandhita.

Dalam hidupnya satriya pinandhita tidak mengedepankan hal-hal yang bersifat material saja. Namun, kehidupan material dan spiritual dijaga agar tetap harmonis.

Dalam pandangannya, drajat, pangkat, semat, kramat, hormat, adalah penting tetapi bukan tujuan hidup semata, me1ainkan hanya wah ana hidup. Hidup seyogyanya mampu meletakkan sikap yang sepi ing pamrih.

WhatsApp chat