Tari Spiritual Jawa Penyelamat Dunia

Hidup manusia penuh dengan godaan dan melalui tantangan inilah justru manusia merasakan seni kehidupan. Berbagai aspek pahit getir hidup ini, oleh pelaku mistik kejawen telah diwujudkan ke dalam bentuk tari spiritual (spiritual dance).

Melalui tarian spiritual, tergambar riak gelombang hidup manusia yang sering banyak guncangan dan tantangan. Hal ini oleh penari dilukiskan melalui gerakan seekor banteng yang dikenal dalam istilah bantheng ketaton. Yakni suatu gerak tari yang sangat cepat, penuh amarah, dan penuh bahaya. Gerakan sensitif ini, juga menyerupai saat perang besar dalam wayang kulit yang disebut perang Baratayuda.

Gerakan dahsyat, tegang, dan mencekam dengan iringan gending srepeg itu hanya berjalan beberapa saat, kemudian muncul gerakan Semar. Gerakan Semar ini dapat dilihat pada gambar.

Hal ini dimaksudkan bahwa di zaman yang penuh rintangan, hanyalah teja (cahaya) manusia Semar yang akan mampu menyelamatkan. Hanyalah satriya sejati yang diembani (dilindungi) Semar yang akan selamat. Karena itu, melalui gerakan Semar, tampak suasana menjadi terang, sinyal-sinyal spiritual mulaijelas arahnya. Hal ini berarti Semar telah mbabar jati dhiri (menunjukkan jati dirinya) sebagai manusiapamomong(pengasuh) sejati dan ngejawantah (menjelma) kepada satriya sejati. Munculnya gerakan Semar, kemungkinan memang diyakini oleh penari spiritual bahwa figur Semar memiliki keistimewaan.

Ini juga dapat dinalar, karena menurut Soehardi (1996: 11) dalam wawasan kosmologi Jawa Semar merupakan representasi pengendali nafsu kebaikan dan kebajikan. Sedangkan pengendali nafsu keangkaramurkaan adalah Togog. Menurut doktrin Kejawen, Semar akan mengendalikan nafsu nuraga (mutmainah), sedangkan Togog mengendalikan nafsu sukarda (sufiah), angkara (amarah), dan lodra (aluamah). Gerak Semar yang diwujudkan dalam figur semedi, sungguh meredakan ketegangan-ketegangan pelaku mistik.

Gerakan kosmis ini diharapkan mampu meredakan keadaan yang dalam unen-unen (ungkapan) bahasa Jawa dikatakan: “Ana macan loro ucul seka krangkeng, macan ‘iku macan ireng klawan putih, macan galak rame kerahe, sanajan ireng nanging iku macan temenan dudu kucing”. Maksudnya, ada suatu kekuatan besar, kekuatan hitam dan putih. Keduanya sama-sama telah lepas dan kini berada di tengah-tengah masyarakat. G�rak kekuatan itu sulit diikuti.

Bahkan kedua kekuatan ittf sama-sama kuat sehingga kekuatan hitam jangan disepelekan. Untuk mengalahkan kekuatan hitam bukan dengan melolosi kekuatan hitam tetapi sebaliknya, dengan menambah kekuatan putih.

 

WhatsApp chat